Sunday, December 12, 2010

Lifestyle Victim

Hola.
Sesuai janji gua di cwidder, kali ini gua akan ngebahas tentang Korban Lifestyle. Sebenarnya gua udah gatel ingin ngebahas topik ini, sayangnya hobi menunda-nunda pekerjaan memang jauh lebih menyenangkan daripada hobi menulis.

Apa sih Korban Lifestyle?
Sebelum gua masuk ke definisi 'korban' itu sendiri, gua mau menjabarkan secara singkat apa itu Lifestyle atau gaya hidup. Berdasarkan hasil googling (nama pun ngeblog ye bukan bikin proposal penelitian), didapat definisi  sebagai berikut: lifestyle is a way of life or style of living that reflects the attitudes and values of a person or group. Nah, penggunaan kata attitudes (sikap), values (nilai), dan groups (kelompok) ini yang menarik. Bagaimana suatu gaya hidup dapat mencerminkan attitudes and values sebuah kelompok tertentu. In short, someone is a lifestyle victim when they're trying so damn hard to live a life that reflects the attitudes and values of a certain kind of person and/or group in which they don't really belong. Mau lebih pendeknya lagi? Ya semacam OKB mungkin, lebih tepatnya bisa dikatakan sebagai 'kagetan'. Kemarin nggak begini, sekarang tren orang-orangnya pada begini ya harus ikutan begini juga.

Menurut gua, lifestyle itu cukup erat kaitannya dengan kapitalisme dimana siapa yang punya modal dia yang menang. Tapi bukan berarti yang nggak punya modal terus jadi cupu ya, karena lifestyle itu sendiri pilihan. Orang bisa milih dia mau makan apa, tinggal di mana, pergi naik apa, dateng ke acara apa, dengerin musik apa, bicara tentang apa, dan lain sebagainya. Lifestyle diciptakan untuk dipilih, itulah kenapa 'gaya' yang paling banyak dipilih oleh kalangan tertentu bisa menjadi gaya yang akhirnya dipilih oleh begitu banyak orang yang mau ikut-ikutan keren. Lifestyle itu sejatinya ya mutlak pilihan masing-masing orang, terlepas dari seberapa banyak 'modal' yang ia punya. Seorang konglomerat bisa aja lebih milih untuk makan siang dengan bajet 30.000 dimana di lain pihak ada seorang mahasiswa pas-pasan yang bela-belain nguras kantong demi bisa makan siang di Pizza e Birra misalnya. Atau bisa juga seorang anak pengusaha lebih milih untuk beli tas di Zara sedangkan ada mbak-mbak kantoran yang bela-belain keluar duit banyak tiap bulan harus nyicil kartu kredit demi sebuah tas Louis Vuitton.

Sekarang kita masuk ke babak nyinyir yang sudah menjadi adegan favorit di setiap tulisan gua: contoh-contoh korban lifestyle! Maka dari itu, izinkanlah gua mengklasifikasi para korban sesuai dengan ranah gaya hidup sebagai berikut.

1. Food & Beverages
Menurut gua, berusaha untuk ngehits dengan makanan dan minuman yang sedang ngetren itu cukup menyedihkan. Dulu gua pernah bahas ini di tahun 2006 (silahkan cekidot ke link ini gan!) dimana ketika itu burger dan bubble drink lagi ngepop-ngepopnya. Sekarang segala makanan dan minuman juga bisa dibikin tren. Mulai dari sushi, pancake, pizza, yoghurt, steak, ramen, beer, slurpee, sampai ayam penyet pun.
Males nggak sih ngeliat orang yang bolak-balik ngetweet "craving for sushi" atau "craving for pancakes". Ya, sebagian korban lifestyle memang memiliki kecenderungan untuk ngetweet makanan-makanan pengaruh asing yang kebetulan lagi hits. Itulah mengapa ketika mendengar kalimat-kalimat tersebut (atau tweet semacam itu) sontak tercium aroma kapitalisme di hidung gua. Bukan sok anti kapitalisme, tapi lucu aja gitu kayak orang dusun baru kelar dijajah, desanya dibangun, terus orang asing jualan makanan, karena mentalnya masih mental dijajah jadi girang kelojotan ngeliat atau mengkonsumsi barang asing. Pathetic kan? Sedangkan untuk makanan lokal sendiri, jarang banget tuh yang ngetweet "craving for rempeyek" atau "craving for kue lepet".
Dan kenapa harus bolak-balik menggunakan kata "craving for" sih? Asli. Pasti baru pada belajar bahasa inggris lewat timeline Cwidder deh.
2. Tempat Tongkrongan Pergaulan
Yaaa apa lagi sih selain the infamous 7-11 Jakarta? Jujur, seumur hidupku gua baru tiga kali ke 7-11 di Jakarta. Gua lebih milih untuk ke Circle K atau alfamart atau warung rokok karena gua gak nyaman dengan keramaian yang dibuat-buat di 7-11. Pada dasarnya, 7-11 itu kan cuma convenience store. Entah kenapa di Jakarta disulap menjadi tongkrongan wajib anak muda belia ibukota. Mungkin bagi yang pernah ke negara-negara asia seperti Singapore, Hongkong, Thailand, Jepang pasti tau deh betapa 7-11 di sana ya selayaknya minimarket, bukan tempat nongkrong yang hits. Asumsi gua, para korban lifestyle itu kaget aja tiba-tiba ada minimarket baru yang bisa self-service. Gua pun sesungguhnya yakin, sebagian dari mereka tidak tahu kalau 7-11 itu franchise minimarket dari luar. Sekali lagi, minimarket. Bukan restoran.
Ironisnya, akibat kaget dengan self-service (bukan masturbasi), mesin slurpee di 7-11 di Salemba pun dijaga ketat oleh dua orang satpam. Entah karena Indonesia terlalu banyak memiliki Sumber Daya Manusia atau karena para pengunjungnya yang kampungan, yang jelas ini menjadi pemandangan yang mengejutkan bagi gua. Di lantai penuh tumpahan slurpee dan minuman lainnya. Dan Pak Satpam pun berulang kali harus mengingatkan para adik-adik remaja untuk memperlakukan mesin-mesin self-service dengan 'sewajarnya'.
Oke, jadi kalo udah bisa ambil slurpee sendiri tanpa bikin becek berarti gaul abis donk ya?

3. Fashion
Gua gak mau berpanjang lebar membahas soal fashion ini. Bosen. Apalagi sama orang-orang yang penganut paham "yang penting punya brand A". Cuma barang retail loh manisku. Di negara asalnye sono, tuh barang retail juga dua minggu sekali dikorting. Gak usah dongak dan congkak gitu donk, timbang nenteng tas boleh nawar di Mangdu aja (atau hasil sikut-sikutan sama emak-emak di Midnight Sale).
Sedih juga sih, melihat betapa masyarakat Indonesia kebanyakan adalah korban lifestyle terutama dalam ranah mode. Coba deh perhatikan, ketika elo berkunjung ke luar kota pun di Mall-nya banyak menjual tas-tas branded yang palsu. Padahal, pakai tas anyaman buatan sesama orang Indonesia pun tak masalah. Mengenakan tas bermerek tidak menjamin seseorang bebas dari ancaman copet bukan? Entah kenapa, adanya rasa bangga mengenakan tas dengan brand luar itu membuat gua cukup muak melihatnya. Dampaknya, tas-tas merek dan/atau buatan lokal jarang diminati. Produsen lokal nyaris mati. Walhasil mereka segan menggunakan merek yang berbau lokal dan dipakailah merek yang berbau asing agar mampu menarik minat pembeli. Gagal pula dengan merek berbau asing, ya diproduksilah tas replika.
Terus masih aja orang bangga pake tas KW?

4. Music Concerts
Ini nih yang bikin gemes-gemes gimana gichuh. Belakangan ini acara konser musik asing justru dipadati oleh orang-orang yang cuma mau foto-foto, sibuk ngetweet, dan berasa gaul ajyah. Nyatanya, ketika sang musisi membawakan lagu hits mereka pun tak jarang yang mulutnya asal cuap-cuap gak karuan nggak ngerti lirik maupun melodinya. Tapi giliran ngetweet aja sibuk "Sumpah! Keren abis!!" padahal kalo ditanya dia bawain lagu apa aja pasti mereka memble. Terus nih, selama konser berlangsung pun mereka sibuk berpose membelakangi panggung dan foto-foto dech. "Buat tweetpic" atau "Upload di Facebook", begitu alasannya. Begitu acara konser berakhir, mereka sudah dipastikan bakal duduk atau nongkrong-nongkrong di lokasi konser sampai benar-benar sepi dan gak ada yang kece lagi, atau bahkan sampai diusir satpam.
Nah, yang kayak begini-begini bisa diramalkan lewat tweet/status jejaring sosial mereka. Yang paling ketara adalah mereka yang sibuk koar-koar mau nonton konser A tapi spelling-nya salah. Misalnya: "Asyik! April 2011 mau nonton Moron 5 ahh."

5. Gadgets
Dulu pun (di link ini) gua sempat menyatakan bahwasanya kamera DSLR akan menjadi bagian dari lifestyle. Sekarang, sejauh mata memandang ke tengah-tengah keramaian ibukota, coba hitung berapa banyak orang-orang yang membawa dan menggunakan (kendati penggunaannya asal) kamera DSLR bahkan dengan lensa yang menjadi standar para profesional pula. Ironisnya, setiap kali melihat orang dengan DSLR dan lensa yang hits tapi cara pegang kamera atau lensanya itu terlihat sekali ketidak-pahamannya. Ketauan loh, mana yang emang bisa/biasa motret sama yang enggak.
Selain DSLR, sekarang pun brand Apple menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Kalau ditanya "Kenapa pakai Mac?" jawabnya paling cuma mesam-mesem sambil berkata "Abis keren aja!". Sesungguhnya, gua agak sedih juga melihat orang-orang yang menggunakan laptop Apple tapi platformnya tetap Windows (dan tolong jangan bilang media player-nya pun masih Winamp). Atau punya iPod Touch tapi nggak ngerti bagaimana cara masukin lagu atau install applications. Bukan cuma karena faktor gaptek aja, tapi bisa juga karena emang bener-bener buta Mac dan nggak ngerti Mac dan mungkin kapasitas otaknya cuma bisa nerima Windows (damn you Bill Gates!).
Blackberry. Yaudah lah ya, ini gadget sejuta umat di Jakarta raya dimana mulai dari para pekerja profesional sampai adik-adik pengamen di jalan Ampera juga punya. Berawal dari kekatroan para pengguna Blackberry, akhirnya tersebar paham bahwa apabila sudah punya Blackberry maka biar makin optimal wajib pula hukumnya untuk punya CWIDDER!

6. Social Media
Social media seperti cwidder (Twitter maksutnya) belakangan ini memegang peranan penting dalam gayahidup manusia urban nan modern (konon). Bagaimana tidak, kalau dulu orang sering update status di Facebook terus dinyinyirin, sekarang mereka bisa sesuka hati update timeline twitter mereka sesering mungkin (dengan resiko ketauan nggak punya kehidupan). Sejujurnya ya, kalo sampeyan keliwat sering update twitter, apalagi tweetnya gak punya nilai guna bagi para pembaca, nasib sampeyan ya gak beda sama yang suka update status gak penting di Facebook (boleh di cek ke link ini). Selain karena terlalu sering update gak penting, the content of your tweets shows what a person you are, how you think, how you live, and might as well how idiot you are.
Nah ini yang lucu. Banyak orang usaha banget untuk tampil menonjol di kancah pertwitteran, ada juga yang biasa-biasa aja. Ada yang usaha keliatan mewah dengan ngetweet hal-hal yang berbau kemapanan seperti makan di mana, lagi pengen beli (atau minta dibeliin) apa, baru beli (atau dibeliin) apa, dan lain sebagainya. Di mana letak lucunya? Begini ya kawan, kami bisa loh tau mana yang terkesan kampungan mana yang enggak. Semakin kalian menggonggong tentang gaya hidup kalian yang WAH (nampaknya), semakin kami tahu kalau kalian (bisa jadi) cuma korban lifestyle yang baru ngerasain idup enak kemarin sore. :)

7. Language
Pasti kalian pernah baca tweet semacam ini di cwidder: "Luluran time" atau "Sushi-Tei-ing wif my bffs" (What? Tei-ing? Teuing, you mean? So it's actually sundanese, eh?). Tak bermaksut menjadi grammar police, tapi bener deh, kalau elo terbiasa baca tulisan dengan ejaan maupun tata bahasa yang baik dan benar, ketika ada yang ngawur dikit pasti reflek kita tau letak gak beresnya. Sayangnya, hal itu banyak terjadi di kancah pertwitteran nusantara (terlepas dari isu RT atau retweet yang dianggap sebagai Reply To. Ngarang abis). Memang sih, gak ada yang salah dengan dua contoh tadi. Tapi perhatikan deh, banyak sekali pengguna cwidder asal Indonesia yang menulis tweet dalam bahasa inggris seperti contoh tersebut. I smell something fishy. *elus-elus jenggot*
Asumsi gua, banyak pengguna cwidder asal Indonesia yang belajar bahasa Inggris lewat cwidder. Kenapa? Karena banyak pula pengguna cwidder asal Indonesia yang menulis tweet dalam bahasa Inggris. Oke, terus di mana letak salahnya? Letak salahnya adalah, banyak pengguna cwidder asal Indonesia yang belajar bahasa Inggris lewat timeline pengguna cwidder asal Indonesia yang menulis tweet dalam bahasa Inggris namun mereka semua ternyata kurang fasih pula bahasa Inggrisnya. Domino Effect pun terjadi. Walhasil terjadilah semacam gaya hidup menulis tweet dalam bahasa inggris (tapi salah atau kurang tepat). Padahal, ngetweet dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar aja dulu kali ye, daripada sok-sokan berbahasa asing tapi gagal? Ya sih memang, penting untuk diingat bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang gagal.
Kenapa gak, instead of writing "Sushi Tei-ing wif my bffs" tinggal tulis aja gitu "Having lunch at Sushi Tei wif (or with, whatever) my bff". I know there's nothing wrong with that, but you know what, I googled "restaurant name with an -ing suffix" and most of the first results are from Indonesia. You do the math.

And just in case you were wondering why I wrote Cwidder instead of Twitter, it's a part of Jakarta's lifestyle for spelling T as C. Like, Cinca Lowrah.

images source: google image, cozyrocket.blogspot.com

16 comments:

Andi said...

pusing ya cek ngeliat ke hedon-an anak2 jaman skrg.. gmna jaman anak2 kita ntar? haha.

Shila G said...

can't agree more to number 1 and number 7 :)

Myria Rafiz said...

hehehehe SETUJU!
pathetic ya, padahal sebenernya produk asli Indo keyen-keyen (use "y" instead of "r" biar dibilang gaol) dan jauh lebih murah pula dibanding produk kawe-kawean.
gw di jogja sih, jadi kagak gitu ngerti dengan hebohnya 7-11 dan self-service slurpee nya. tapi waktu awal-awal di jogja ada circle-k, banyak jg yang nongkrong didepannya dan alhasil Circle-K sempat dicap sebagai tempat gaol di jogja. mungkin emak-emak harus nongkrong di indomaret biar gaul kali ya.. LOL

Vanya said...

Chekka....
Panjang ya bok postngannya :D
Tapi menurut gw, waktu gw masih pas-pasan belom kerja, gw juga pengen makan di tempat-tempat yang baru. Bela2in nabung juga dijabanin. Pengen nyobain, namanya masih muda kan pengalaman belum banyak, jadi pengen mengalami.

Trus mbak kantoran punya Louis Vuitton sih menurut gw juga nggak papa, even nyicil. Kan seperti katalo tadi, itu pilihan. Mungkin dia gak splurge di hal lain, karena emang pengen punya. Sama aja kayak gw. Gw gapernah mau spend banyak2 buat tas, sepatu atau baju-baju bermerk karena gw splurge di hal-hal lain seperti makanan.
Masa karena gw bukan konglomerat, gw ga boleh makan yang lebih dari 30 ribu?

Trus soal 7-11. Ya emang tujuan yang mereka pengen capai adalah tempat itu jadi tempat nongkrong. Makanya disediain bangku. Kalo di luar negri, kan ga disediain bangku. Mungkin kalo disediain banyak juga yang nongkrong.
Lagipula kebetulan gw tau kalo 7-11 emang propose ke pusatnya untuk menjadikan 7-11 Indonesia untuk tempat nongkrong. Dan butuh waktu sampai diapprove. Jadi sekali lagi emang dibikin bua nongkrong anak-anak yang uang jajannya dikit. Kan kalo di Pizza E BirRa, nanti salah juga :p

Soal DSLR dan Mac, emangnya Steve Jobs bukan kapitalis? :p
Dia mah seneng2 aja kalo produknya banyak dipake orang. Makanya dia bikin image produknya hip. Lagian masa orang ga boleh sih dari Windows trus pengen nyobain Mac? Gw baru pake Mac sekitar 5 taun, itupun karena dikenalin pacar, trus gw ga boleh gitu seneng sama Mac? Gw harus disebut korban lifestyle juga?
Kalo yang make mac dikit, Steve Jobs nanti jadi kismiiin :p
Samalah sama DSLR :D

yagitu, jadi menurut gw ga ada yang salah dengan kapitalisme. Semua barang yang kita pake kan hasil kapitalisme. Termasuk barang-barang branded yang bukan barang retail seperti katalo.
Kalo ada yang norak di Twitter, ya emang orang norak banyak aja. Ga usah ditemenin.... Nanti jadi sebel sendiri :D

Yah gw komennya panjang juga :D
Maybe it's not worth reading, tapi ya bijitulah hahahaha
Ayo kapan kita bertemu? Min ke rumah lagi, dooong

Apokpak said...

Hahaha, klasifikasinya itu... salut! *jempol*

Bowgey_Andreas said...

permisi...
itu dia...
CK menjadi tempat nongkrong... dan pengembang Indomaret™ membidik pola pikir anak muda penongkrong di indonesia(jogja khususnya) dan menyediakan semacam food court di depan toko+hotspot... fungsinya... seperti tempat nongkrong, tapi lebih tertata... satu titik kepintaran dengan memanfaatkan kebodohan lingkungan(manusia)...
tapi memang anak muda indonesia kita selalu membesar2kan sesuatu yang baru dan menjadikannya trend... kita lihat saja... mulai dari pager, hp, laptop(hotspot finder), BB, appleaddict, DSLR sampe toko2 impor yang bermunculan dan selalu jadi rame dadakan...
saya kaget dan benar2 kecewa dan ngakak dengan user MACbook dengan OS Windows... benar2 menyia2kan resource...
sekian komentar saya...maaf jika kurang sopan^^

chekka cuomova said...

Vanya: hehehe kita emang seneng yang panjang-panjang. ya kembali ke awal postingan gua, lifestyle itu pilihan. dan aku tidak segitu antinya dengan kapitalisme (tanpa kapitalisme gua ga kerja di fashion hehe). cuma ya itu, lucu aja melihat bagaimana orang-orang bereaksi dengan 'alternatif' gaya hidup baru, yang sebelumnya tidak ada. :)
asik2 boleh ya ngerecokin rumah lagi :D

tatine said...

like this..

erika said...

super setuju sama semua yang ditulis! yang nomer 4 tuh biasanya cuma ikut-ikutan temen, padahal mungkin cuma tau lagu hitsnya doang :D hahaha malu-maluin :p

Hanifa Faozia said...

Hayo-hayo nongkrong di konbini. Deket rumah gua banyak tuh. Nyebrang dikit ada 7/11, belakangnya lagi ada Sunkus, belok kanan Circle K, jalan terus lagi ada Lawson, deket stasiun Mini Stop, terus lagi Family Mart... buset dah
Cuman nggak ada yang jual Slurpee noh, minum bir pletok aja kita yak!

Rianariani said...

wah bagus sekali tulisannya kakak :D saya sangat setuju sekali loh. sempet mau tulis kayak begini tapi takut dibilang menggurui dan sebagainya. Tapi justru tulisan macem gini yang bikin orang melek ya haha

Anonymous said...

gw setuju yang 7-11 ,di tebet ada 7-11 baru buka, herannya temen kantor yg masih abg hampir tiap hari kesitu cuman beli minum ama burger, setiap kali nyebut "ke 7-11 yuuk" , posting di foursquare tiap hari ya lokasi 7-11 . satu saat semobil, ya jadinya keikut mampir dah, dianya ke 7-11 gw ke kaki lima di deket2 situ beli Tahu sumedang. trus gw bungkus pake bungkusnya 7-11 , gw di mobil bilang, wah ternyata 7-11 lengkap juga ya, gw beli tahu sumedang aja ada neh

Anonymous said...

@Vanya : ealah, banyak omong ternyata gak berisi

Anonymous said...

ah elu sendiri pake barang bermerek. sorry to say, but thats pathetic

chekka cuomova said...

@ anonymous: menurut gua, elo lebih pathetic. write your real name, please?

Anonymous said...

sesuai sama pikiran gue :
SLURPEE, MAC, BB, foto" konser hmm dan sebagainya..
orang lebih pada "kaget" atau "ambisius eksis"? hahahaha baliknya sih ke pilihan masing" cuma... mengerikan dan menyedihkan.

two thumbs up, chekka! :))

-SASI-