Saturday, October 31, 2009

Antagonists in Real Life

How would you feel when someone's giving you a hard time?
Shocked? Fucked up? Panic? Excited? or what?

Gua tipe orang yang selalu kaget dan sulit untuk percaya ketika ada orang yang jahat sama gua dan/atau orang lain. Apa pun bentuk kejahatannya. Bukan karena gua terlalu banyak membaca kisah-kisah fairytales, karena toh di dongeng-dongeng 'kisah cantik' itu tetap muncul tokoh-tokoh antagonis yang bentuk kejahatannya cukup dikatakan kreatif. Sebut saja ibu tiri Putri Salju yang tidak kehabisan akal untuk membunuh Putri Salju, atau tokoh Serigala di dongeng "Little Red Riding Hood" yang dengan teganya melahap seorang nenek-nenek yang sudah renta. Nenek-nenek loh. Dagingnya kan udah alot. Mungkin serigala itu sedang lapar-laparnya, terdesak oleh rasa lapar yang menggila jadi apa pun disikat yang penting kenyang.
Tapi kalau dipikir-pikir, tokoh-tokoh antagonis tersebut berbuat jahat bukan karena dia terlahir jahat atau iseng aja pengen jahatin orang. Mereka berada dalam posisi yang tidak nyaman, terdesak, dan dilengkapi dengan rasa insecure yang menggerogoti psikis mereka sehingga mereka pun terdorong untuk 'mencelakai' orang lain demi perasaan aman dan/atau kebutuhan mereka terpenuhi. Ibu tiri Putri Salju merasa 'terancam' dengan beradaan Putri Salju yang ditakdirkan untuk lebih cantik daripada dirinya. Meskipun sebetulnya wajarlah Putri Salju lebih cantik, bagaimana pun yang lebih muda akan terlihat lebih cantik dan menarik daripada yang tua. Perasaan terancam ini mendorong Ibu tiri Putri Salju untuk membunuh, yang tentu saja dari dulu kita dicecoki ajaran bahwa membunuh itu adalah kejahatan besar, apa pun alasannya. Sama halnya dengan Cruella De Ville di cerita 101 Dalmations. Karena kecintaannya pada mode, terutama fur in fashion, dia pun tergerak untuk menculik anjing-anjing milik sahabatnya sendiri untuk dikuliti demi sebuah coat. Dan karena perbuatan-perbuatan yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma kebaikan inilah nyonya-nyonya ini pun mendapat predikat sebagai antagonis.
Contoh itu ada di dalam dongeng, fakta di kehidupan nyata lebih mengerikan lagi. Belum lama ini gua ditipu oleh seorang klien, pekerjaan saya dan tim diinjak-injak seenak jidat dan mereka tidak mau membayar honor kami semua. Kisah lain, seorang teman mengalami kecelakaan tertabrak bus, dan laptop beserta handphonenya dicuri orang pada saat ia terkapar akibat kecelakaan tersebut. Dan teman gua ini masih koma sampai detik ini. (tolong bantu doa ya, teman-teman)

Fakta-fakta ini kerap membuat jantung gua berdebar-debar, mulut menganga lebar, sekaligus menyulut kemarahan dan kekecewaan yang luar biasa. Gua masih nggak habis pikir, dan terus berpikir nggak habis-habis kenapa manusia bisa berbuat jahat seperti itu. Sekali lagi gua sendiri juga nggak mengerti kenapa gua sebegitu 'kampungan'nya ya setiap kali melihat fakta betapa manusia dapat menyakiti manusia lain tanpa merasa bersalah atau apa pun juga. Padahal dari kecil saya terbiasa membaca berita-berita kejahatan di koran, kisah-kisah tragis Ernest Hemingway, kisah-kisah seru nan mendebarkan Enid Blyton, hingga kisah-kisah penuh drama Oh Mama Oh Papa di majalah Kartini.

Sejak kecil gua sering berjumpa dengan orang-orang jahat, dan terkadang gua masih tidak mengerti motif di balik kejahatan yang mereka lancarkan itu. Orangtua dan orang-orang yang lebih tua di sekitar gua selalu mengingatkan untuk bersabar, istighfar, dan jauhi dendam. Tapi jauh di lubuk hati yang terdalam, bersinkronisasi dengan neuron-neuron di otak gua, terbersit niat untuk sekedar menyadarkan mereka; "heh rasain lo kayak gini nih rasanya dijahatin! emang enak!" tapi toh itu tinggal angan-angan. Gua nggak punya cukup nyali untuk membalas perbuatan tidak menyenangkan itu.

Beberapa bulan yang lalu gua sempat mengenang kembali kisah-kisah getir ketika gua dijahatin beberapa orang-orang yang tak perlu lah gua jabarkan semuanya. Salah satunya adalah copet dan juga pria-pria cabul di pinggir jalan, mereka termasuk orang yang pernah menzolimi gua tentunya. Gua pun berpikir, Sigmund Freud pernah mengatakan bahwa masa lalu seseorang itu penting, gua mengamini ucapan Freud itu. Masa lalu membentuk gua menjadi individu dengan corak karakter yang digoreskan oleh masa lalu. Analoginya, bila individu adalah lukisan, maka masa lalu adalah goresan-goresan di atas kanvas. Warna-warna dari goresan tersebut mengindikasikan kebahagiaan, kegagalan, kesedihan, dan variabel-variabel kehidupan lainnya. Dan tebal tipisnya goresan tersebut mengindikasikan seberapa signifikan pengalaman masa lalu itu bagi pembentukan kepribadian kita hingga saat ini.
Dalam kanvas kehidupan gua, terlihat beberapa tokoh-tokoh antagonis datang dan pergi silih berganti dengan kasus-kasus yang unik. Namun dari semua itu hanya segelintir yang meninggalkan efek yang signifikan hingga sekarang. Salah satunya adalah kesulitan untuk mempercayai orang lain. Ini menjadi fenomena tersendiri bagaimana antagonis yang muncul dan meninggalkan bekas luka di dalam kehidupan kita bisa memahat kepribadian kita. Pertanyaannya, apakah elo rela tokoh-tokoh antagonis itu memahat kepribadian lo?

Di satu sisi, harus kita ingat dan sadari bahwa kehadiran dan keberadaan tokoh-tokoh antagonis itu justru (seharusnya) menjadikan kita sebagai individu yang kuat dan lebih memaknai dan menghargai hidup dengan segala aspeknya. Terdengar klise memang, tapi itu benar adanya. Bayangkan kalau saja elo tidak pernah gagal, bagaimana elo tau kalo elo udah berhasil?

Astaga gua ngomong apa ya? Beginilah akibat kebanyakan ngebir di siang hari.

Happy Halloween, bagi yang merayakan.

9 comments:

dinadinadina said...

aheee... ilmiah banget buu...
jempol!!!

turut berdoa juga buat temen lo itu.. smga lekas sadar..
dan juga turut berdoa buat klien lo itu...
smoga lekas binasa!!!
amiiinn!!!!

chekka cuomova said...

hehehe sekali-kali boleh donk tulisan gua berbobot dikiiiiiiiiit. hahaha.

iya nih moga2 dia cepet sadar dari koma. orangnya baik bangetttt.. :"(

Diaz said...

blog walking :)
jadi ada kemungkinan kalo tokoh antagonis di masa lalu membuat kita jadi antagonis juga dong yaaa? trus sisi antagonis kita membuat orang lain jadi antagonis? wuah, lingkaran setan...

oh iya.. turut berdoa juga buat temen lo.. kasian banget. temennya ade gue juga ada yang tabrakan motor terus dompet sama hpnya ilang.

Lydia Florencia said...

chekka, i love your writing so inspiring..

chekka cuomova said...

@ Diaz.. iya bisa juga seperti itu.. kayak banyak juga kan cerita2 di film, orang yang pernah/sering dijahatin akhirnya melakukan tindak kejahatan ke orang lain. contoh film komedi untuk kasus ini "Me, Myself, and Irene" misalnya. :D

@ Lydia.. hehehe thanks dear.. ;D

Anonymous said...

I found this site using [url=http://google.com]google.com[/url] And i want to thank you for your work. You have done really very good site. Great work, great site! Thank you!

Sorry for offtopic

Anonymous said...

cialis v s viagra viagra strips does viagra work how to buy viagra viagra logo viagra buy price iframe what is viagra free sample prescription for viagra viagra women viagra uk cheap purchase buy free trial of viagra how does viagra work cialis vs viagra ship free viagra sample

Anonymous said...

Who knows where to download XRumer 5.0 Palladium?
Help, please. All recommend this program to effectively advertise on the Internet, this is the best program!

amel amel said...

bagus kok tulisannya, aku suka...
d(^^)b... 2 jempooooool