Friday, January 11, 2008

dearest betawi

I went to Mubes Bamus Betawi (Badan Musyawarah Betawi) yesterday, discussing about MH Thamrin, betawian hero. bukan 'hero' semacam superman atau mungkin spiderman, tapi pahlawan nasional yang berhasil memprakarsai Sumpah Pemuda, menyatukan jong-jong seantero nusantara yang sudah sadar dengan istilah persatuan dan kesatuan. seorang anak betawi yang berasal dari keluarga elite yang tidak lantas seenak jidat menghambur-hamburkan harta orang tuanya dan tidak ingat mereka yang kurang berada. beliau sangat royal, bahkan menurut pembicara mubes kemarin, mungkin saat beliau tidur beliau juga tetap memikirkan rakyat kecil karena beliau selalu saja memiliki ide-ide baru untuk memperjuangkan nasib rakyat kecil. menurut gua, jumlah orang seperti MH Thamrin gak lebih dari 10 dari 1000, terlalu langka untuk dibilang 'ada'.
.
speaking about Betawi, gua kadang suka sebel sama mereka yang mengaku-akui dirinya sebagai Betawi hanya karena mereka lahir dan besar di Jakarta. Bukan berarti lo lahir dan besar di Jakarta lantas elo orang Betawi, kecuali kalo nenek moyang lo ada orang Betawi. Bukan berarti juga kan, lo lahir dan besar di Medan trus lo jadi orang Batak padahal jelas-jelas di belakang lo ada nama Sumanto atau Sutisna misalnya.
.
Jakarta memang suatu titik di mana multikulturalisme berkembang yang mana saking berkembangnya sampai-sampai Jakarta hampir kehilangan jatidirinya. coba deh liat, gapura bandara Soekarno-Hatta aja dibikin gapura Bali. kenapa bukan gapura khas Betawi yang melambangkan ke-eksistensian penduduk asli Jakarta? meskipun bandara gak di Jakarta, tapi sejatinya orang-orang dari Bandara kan menuju Jakarta. terusss, di mall-mall juga jaraaang sekali ditemukan design berbau Betawi malah yang banyak terlihat belakangan ini justru design Oriental alias China. ironisnya, coba lihat gapura Pasar Baru. terpampang tulisan "Batavia Passer Baroe" tapi gerbangnya 100% design China. bahkan suatu tempat yang disebut "Kampoeng Betawi" malah ditempatkan jauhhh di ujung pinggiran Jakarta, bukan di tengah-tengah Jakarta padahal museum MH Thamrin berada di pusat Jakarta. Gua sangat khawatir nasib Jakarta bakalan seperti Singapore yang budanya telah ter-replaced dengan budaya oriental padahal penduduk aslinya adalah etnis melayu. Mau sampai kapan Betawi disisihkan seperti ini? Jakarta pun menjadi kota yang tidak jelas asal-usulnya, seperti tidak punya akte kelahiran karena budaya asli Jakarta malah dibuang jauh-jauh ke pinggiran.
.
sebagai keturunan Betawi asli gua sangat prihatin dengan keadaan kayak gini. Seharusnya, pendatang-pendatang yang numpang hidup dan numpang beranak pinak di Jakarta bisa menghargai kekayaan budaya yang emang lahir dan berkembang di Jakarta. bukan malah menindasnya dengan segala tetek bengek informatika dan segalanya yang mengelu-elukan modernisasi, globalisasi dan nafas nasionalisme. kenapa pendatang-pendatang itu malah terkadang suka seenak-enak jidat mentertawakan budaya Betawi seperti misalnya ondel-ondel, tanjidor, dan bahkan 'tradisi' poligami yang lekat dengan citra pria Betawi. mereka bisa seenak-enaknya memberikan judgemental dan stereotype negatif terhadap kaum Betawi yang mana sesungguhnya adalah si empunya rumah alias penduduk asli Jakarta.
.
hemat kata, kalo bertamu tuh yang sopan dikit lah. hargailah kebudayaan Betawi dan cobalah untuk tidak terus-terusan menempelkan stereotype pada suatu suku/etnis tertentu. and oh, I have to say, mereka-mereka yang tergabung dalam suatu 'organisasi' yang mengatas namakan etnis Betawi tolonglah jangan malah merusak citra Betawi dengan bertingkah seperti orang yang gak pernah makan bangku sekolahan. oke kalo emang ternyata gak pernah sekolah, tapi gak usah bawa-bawa nama Betawi. udah saatnya kaum Betawi bangkit dan membuktikan ke khalayak umum bahwa etnis Betawi juga patut diperhitungkan!
.
and I'm so proud to be Betawi!!

6 comments:

aldo said...

you really are a good writer cHe!! salute to you

Anonymous said...

go betawi go!!!

mely said...

Aku gede di medan, emang sih aku bukan suku batax tapi suku jawa hihihihi...

Anonymous said...

yah mgkn ajah karena betawi juga ada pengaruh cinanya kali yah.. namanya juga kota besar.. pasti banyak pengaruh dari luar.. for example: loe- gue nya orang betawi gwa rasa juga ada pengaruh dari cinanya like bahasa hokkian : wa - le..
nimbrung ajah ne..

Anonymous said...

ya namanya juga kota gede, banyak orang dari mana-mana tinggal di betawi. gue ngerti keprihatinan elo bahwa budaya betawi semakin "ilang", tapi kalo diliat dari sisi yang lain..for example: betawi itu kota and kebudayaan yang mencerminkan hampir seluruh indonesia.. doesn't that sound better? that by just going to betawi (or jakarta) you get to see a little glimpse of indonesia.

i dont personally think multiculturalism is a bad thing, but it sure gets annoying sometimes when your own culture gets kind of lost in the melting pot.

i like your critical thinking, my dear. continue writing.

Anonymous said...

Haii Che aq ank mlg nm q antok leh knalan dunk!!
q br sma n agak gaptek gtu deh. if u're be my friend i'll be very happy
boxercakep@yahoo.com