Seperti yang sudah dijanjikan jauh-jauh hari, ini cerpen gua yang (berhasil) dimuat di Majalah Sastra "Horison" edisi Januari 2009. Selamat menikmati. :)
MONOLOG
Senin. 9 AM. Kopi pertama.
Aku letakkan koran pagi di atas meja dengan kasar. Kamu baru pulang dengan baju berantakan, rambut acak-acakan, dan sepatu ditenteng asal-asalan. “Kamu tahu jam berapa sekarang?” tanyaku kesal.
“Maaf Sayang, sehabis lembur aku ketiduran di kantor.”
Aku menghela nafas dengan berat, kamu pasti habis tidur dengan sekretarismu lagi.
Lagi! Keparat memang perempuan itu! Tapi aku bisa apa? Tidak bisa apa-apa! Sudah tujuh tahun aku membina rumah tangga dengan kamu dan sudah tujuh tahun pula aku mencoba beradaptasi dan menerima kebiasaan burukmu yang tidak dapat disembuhkan meski kamu telah menjalani begitu banyak terapi-terapi yang menguras uang kita. Penyakit kamu: bermain gila.
Tapi lagi-lagi dan lagi, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menghela nafas dengan berat. Menahan bongkahan batu di dada tanpa bisa mengeluarkannya dan membantingnya hingga hancur berkeping-keping. Kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalani dan menikmati kebiasaanmu yang kamu anggap menyenangkan. Aku ingin sekali menampar kamu, memukul kamu, membunuh kamu! Tapi aku hanya bisa berpura-pura menjadi istri yang baik, menerima suami apa adanya, dan pasrah dengan segala perlakuan suaminya.
Aku bahkan tidak bisa bercerita dengan siapa pun juga. Tidak dengan sahabat, tidak dengan keluarga. Aku hanya bisa bercerita pada diri sendiri seperti orang gila. Betapa aku ingin menceraikanmu tapi tidak kuasa. Betapa aku muak harus berpura-pura bahagia menikah denganmu meskipun belum juga dikaruniai anak karena kamu sangat jarang ada untuk bercinta. Betapa aku lelah menutupi kebusukan kamu di depan keluarga. Aku ingin lari dari semua ini tapi terhalang oleh sekedar kata ‘tidak bisa’.
10 AM. Kopi kedua.
Kulihat kamu keluar dari kamar dengan rambut basah, wajah segar, pakaian rapi, dasi di pundak, dan tas laptop di tangan kiri. “Langsung kerja lagi?” tanyaku sinis.
“Iya, ada presentasi penting.”
Aku hanya bisa tersenyum getir. Bukan presentasinya yang penting, pasti klien cantiknya itu yang penting. Perempuan muda cantik dan cerdas yang pernah kupergoki sedang asyik suap-menyuapi dengan suamiku di sebuah restoran di mana dulu kamu melamarku. Perempuan yang pernah kudapati habis bercinta di rumah ini dengan mengenakan gaun tidurku. Perempuan keparat setelah sekretaris tidak tahu malu itu! Dan aku hanya bisa tersenyum sambil menahan gejolak emosi dalam kalbu.
Tanpa menganggapku ada, kamu langsung pergi meninggalkan aku sendiri lagi dan sendiri lagi di rumah kosong ini. Aku hanya bisa mendengar suara mesin mobilmu yang terasa semakin lama semakin menjauh. Andai aku mampu berbuat sesuatu. Sesuatu yang dapat melepaskan diriku dari kungkungan emosi jiwa yang membuatku tidak dapat berbuat apa-apa. Andai aku bisa berontak!
Aaaaaaaaaaaaarrgh!!!!!!!!
Tak sadar aku telah membanting cangkir kopi dan menginjaknya. Darah segar bercampur dengan kopi hangat di lantai.
Selasa. 10 AM. Rokok pertama.
Kudengar dari seorang teman, kamu main-main ke daerah Kota tadi malam. Dan pagi ini kamu baru pulang dengan wajah ditekuk, membuatku berasumsi kamu tidak puas dengan pelayanan pelacur yang kamu sewa. Aku enggan menyapa. Enggan pula menatap wajahmu. Berharap kamu yang berinisiatif untuk melakukannya. Tapi ternyata kamu bahkan tidak peduli aku ada.
Aku tatap mata kucingku yang duduk berseberangan denganku, berharap kami bisa berbicara lewat kontak mata. “Aku benci dia!” aku mendesis. Kucingku hanya mengedipkan matanya, aku mengartikannya sebagai tanda mengerti. Aku ingin menceraikannya. Aku ingin membunuhnya. Aku ingin dia binasa!
10.15 AM. Rokok kedua.
“Sayang, kamu nggak masak ya?”
Aku tidak punya racun untuk kujadikan bumbu masakan yang lezat, Sayang. Aku malas masak tanpa racun. Karena tanpa racun kamu akan baik-baik saja memakan masakanku. Aku tak mau kamu baik-baik saja. Aku ingin kamu mati, Sayang. Aku ingin kamu kejang-kejang dan tewas dengan mulut berbusa setelah memakan menu spesial buatanku. Dan akan dengan senang hati aku galikan liang lahat untuk kamu. Berapa meter pun kedalaman yang kamu pinta. Akan aku gali dengan segenap tenagaku. Karena aku mencintaimu, Sayang!
“Kamu tuh ya, gimana suami bisa betah di rumah kalau nggak pernah melayani suami?!”
Bagaimana aku mau melayani kamu kalau kamu sendiri tidak pernah betah di rumah?!
Rabu. 11 PM. Botol pertama: Merlot.
Dengan ditemani musik bernuansa gelap aku menegak Merlot dalam jumlah banyak. Aku menertawai diriku sendiri dengan airmata terus berlari dari pelupuk mataku melewati lintasannya di pipiku. Mentertawai betapa beruntungnya perempuan muda biadab itu karena telah berbadan dua. Betapa sehat rahimnya karena tak perlu menunggu lama sperma suamiku telah berhasil membuahi sel telurnya. Betapa malu aku pada semua manusia sejagat raya karena aku sendiri tidak pernah lagi merasakan nikmat bercinta dengan suamiku seusai malam pertama. Betapa aku ingin... Aku ingin mati saja.
Botol kedua: Chivas.
Aku merasa begitu ringan. Begitu tidak berdaya. Aku hanya bisa merebahkan diri di sofa sambil meneguk Chivas langsung dari botolnya. Tapi aku merasa mengangkat botol pun aku sudah tidak bisa. Yang aku bisa hanya memejamkan mata.
Warna-warni neon berputar-putar menghantam kepalaku selama aku memejamkan mata. Lalu warna-warni itu berpendar, memudar dan membentuk suatu siluet. Siluet seorang lelaki dan perempuan buncit. Siluet itu semakin jelas, dan kini tak lagi menjadi bayang-bayang yang samar. Aku mengenali bayangan dua orang itu, bayangan yang sangat familiar. Suamiku dan perempuan muda itu sedang bercengkrama di titik buta mataku. Mereka berdansa, bermesraan, saling menggeliat manja, saling meraba.
Aku memaksakan diri untuk membuka mata. Ruangan mendadak berputar dan berputar dan terus berputar tanpa henti. Aku mencoba untuk bangun dari rebahku, mengambil botol Chivas dan meneguknya dengan rakus hingga tetesannya membasahi leher dan dadaku. Kini yang tersisa hanya rasa panas di sekujur tubuhku. Rasa panas yang memotivasi aku untuk bergerak ke dapur dan mengambil sebilah pisau paling tajam yang aku punya.
Langkahku begitu ringan, seperti melayang. Sesekali aku menabrak sofa atau benda-benda lainnya yang menghalangi perjalanan panjangku menuju dapur. Sesampainya di suatu tempat yang aku yakini sebagai dapur, aku mulai meraba-raba mencari pisau.
Pisau. Pisau. Pisau.
Kini pisau yang kucari telah berada dalam genggamanku. Ujungnya yang mengkilat menggodaku untuk sekedar mengecupnya hingga bibirku berdarah. Aroma darah langsung menusuk ke hidungku dan menciptakan sensasi yang luar biasa. Aku rindu aroma ini. Dan aku ingin mencium aroma ini lagi. Aku pun menggoreskan mata pisau ke lenganku hingga aku merasa sensasi perih yang cukup hebat. Namun aku merasa kurang. Aku ingin aroma yang lebih kuat lagi!
Tapi aku tidak kuat. Kepalaku luar biasa pusing dan tenagaku mendadak lenyap. Aku terjatuh ke lantai. Aku merasa lemas. Aku mual. Dan tumpahlah segala yang baru saja aku teguk, membasahi lantai yang telah basah oleh darah.
Kamis. 9 AM. Rokok pertama.
Aku menghela nafas panjang. Bosan. Terlalu bosan untuk bilang saya tidak bosan. Bosan yang luar biasa bosan. Rumah sepi. Nyaris kosong. Tapi tidak sesepi dan sekosong isi kepalaku. Aku sudah buang semua isi kepalaku tadi malam. Aku buang karena aku sudah terlalu bosan.
Kucingku menggeliat manja di pergelangan kakiku. Aku tidak merespon. Aku bosan. Bahkan dengan kucingku saja aku bosan. Bagaimana dengan manusiaku: suamiku? Bagaimana dengan aku? Aku terlalu bosan untuk bilang saya tidak bosan dengan semua yang bernyawa dan hidup di dunia. Termasuk kamu. Iya, tentu saja termasuk kamu!
Kamu yang sedang tertidur dengan nyenyaknya. Kamu yang sering meninggalkan aku demi kesenangan lahir batinmu. Kamu yang juga telah menghamili seorang wanita muda. Kamu yang membiarkan wanita lain merusak rumah tangga yang telah susah payah kita bina. Kamu yang suka jajan-jajan di daerah Kota. Kamu yang sombong dengan keperkasaan yang kamu punya!
Meskipun kamu pula yang menggendongku kembali ke kamar dengan keadaan bercucuran darah dan mengobati semua luka di tubuhku. Namun tidak dengan luka yang telah kamu torehkan di hati dan jiwa yang terlanjur cacat selamanya.
Dan rasa pusing dan mual terus saja menghantamku.
Rokok kedua.
Aku menghisap rokok dalam-dalam dan kuhembuskan asapnya ke muka kucingku yang tak punya dosa. Dia sudah terbiasa hidup di tengah-tengah gumpalan asap dan abu rokok, maka dia diam saja sambil memejamkan matanya yang bulat hingga akhirnya dia tertidur di pangkuanku. Kucing yang malang, gumamku. Apa jadinya kalau aku jadi kucing dengan majikan seperti aku? Aku pasti akan memilih untuk kabur dan berkelana untuk menghidupi diri sendiri daripada harus tercekik rasa bosan yang tidak tertahankan lagi.
Apakah kucing juga mempunyai rasa bosan?
Rokok ketiga.
Aku berjanji pada diriku sendiri ini adalah rokok terakhir untuk pagi ini. Paling tidak sebelum aku mandi pagi. Paling tidak sebelum aku pergi. Paling tidak sebelum akhirnya aku memutuskan untuk bunuh diri. Atau mungkin membunuh suami.
19 September 2006, 10:09 PM